50 Hektare Sawah di SBU Terancam Alih Fungsi Akibat Krisis Air, Petani Mulai Tanam Kopi dan Jagung
Rejang Lebong, (Radar Lembak) –
Sebanyak 50 hektare lahan persawahan di Kecamatan Sindang Beliti Ulu (SBU), Kabupaten Rejang Lebong, terancam beralih fungsi akibat mengalami kesulitan air selama lebih dari enam bulan terakhir.
Kondisi ini membuat sebagian petani mulai mengubah lahan sawah menjadi kebun kopi, jagung, bahkan ada yang membiarkannya terbengkalai.
Kekeringan tersebut dipicu rusaknya pintu air serta pendangkalan aliran sungai di wilayah Desa Karang Pinang, yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air irigasi bagi areal persawahan masyarakat.
Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) SBU, Didi Darmadi, S.ST, menjelaskan, sedikitnya empat desa terdampak akibat kerusakan tersebut, yakni Desa Tanjung Agung, Pangambang, Jabi, dan Tanjung Heran.
“Sejak Juni 2025 sampai April 2026, sawah di empat desa itu tidak lagi produktif karena pintu air di Karang Pinang rusak parah. Pintu air yang biasanya bisa dinaik-turunkan kini tidak berfungsi,” jelas Didi kepada media ini, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan, selain kerusakan pintu air, aliran sungai di sekitar intake irigasi juga mengalami pendangkalan dipenuhi batu-batu besar dan kecil yang menghambat masuknya air ke saluran irigasi.
“Banyak batu menumpuk di sekitar pintu air, sehingga aliran air tersumbat dan tidak lancar masuk ke irigasi,” ujarnya.
Berbagai upaya swadaya telah dilakukan masyarakat bersama pihak BPP untuk mengatasi persoalan tersebut, mulai dari gotong royong membuat tanggul darurat menggunakan bambu, rotan, dan batu. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil.
“Karena tumpukan batu terlalu banyak, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan manual. Harus menggunakan alat berat,” tegasnya.
Menurut Didi, pihaknya telah berulang kali melaporkan kondisi tersebut kepada instansi terkait, mulai dari Dinas Pertanian, Dinas PUPR, hingga BPBD Kabupaten Rejang Lebong, baik secara lisan maupun melalui surat resmi.
Akibat berkepanjangannya persoalan ini, kata dia, sejumlah petani mulai kehilangan harapan untuk kembali menggarap sawahnya.
“Sudah banyak sawah dialihfungsikan. Ada yang ditanam kopi, jagung, bahkan ada yang dibiarkan begitu saja karena tidak bisa lagi ditanami padi,” ungkapnya.
Didi berharap pemerintah daerah segera turun tangan sebelum seluruh lahan persawahan di wilayah tersebut benar-benar hilang.
“Kami berharap instansi terkait segera menindaklanjuti kerusakan ini agar petani bisa kembali menanam padi dan aktivitas pertanian masyarakat normal seperti semula,” pungkasnya. (Mawid)


















