Warga Trans Taktoi Merasa Kena PHP PUPR Rejang Lebong, Janji Jalan Dibangun 2026 Tak Kunjung Terwujud
Rejang Lebong, (Radar Lembak) – Harapan puluhan keluarga di Dusun II Trans Taktoi, Desa Taktoi, Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, untuk menikmati jalan yang layak hingga kini belum terwujud. Jalan sepanjang sekitar 4 kilometer yang menjadi akses utama warga tersebut mengalami kerusakan parah, sementara janji pembangunan yang disebut akan direalisasikan pada 2026 belum menunjukkan tanda-tanda pelaksanaan.
Kondisi ini membuat sekitar 160 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 400 jiwa di kawasan Trans Taktoi merasa kecewa. Warga menilai harapan yang sempat muncul setelah adanya pengukuran jalan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rejang Lebong belum berujung pada perbaikan nyata.
Istanto, salah seorang warga Trans Taktoi, mengatakan kerusakan jalan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin memburuk sejak 2019. Padahal, jalan yang dibangun pada 2013 itu sebelumnya memiliki lapisan aspal yang cukup baik dan menjadi akses penting bagi aktivitas masyarakat.
“Sekarang kondisi jalan sudah rusak cukup parah. Ada beberapa titik yang sangat memprihatinkan, seperti Tebing Kancil, Tebing Aris, Tebing Cekdam, Tebing Pak Baru, hingga tebing menjelang permukiman warga,” ujar Istanto.
Menurutnya, kerusakan jalan tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas perekonomian warga. Mayoritas penduduk Trans Taktoi menggantungkan hidup dari sektor pertanian, mulai dari kopi, karet, kelapa sawit, hingga komoditas lainnya.
Akibat kondisi jalan yang rusak, warga kerap mengalami kesulitan saat mengangkut hasil perkebunan. Perjalanan menuju permukiman maupun keluar dari kawasan tersebut juga menjadi kekhawatiran tersendiri, terutama ketika melintasi titik-titik jalan yang mengalami kerusakan berat.
“Kalau masyarakat mau mengangkut hasil pertanian, tentu sangat terhambat. Saat berangkat maupun pulang, kami harus ekstra hati-hati karena kondisi jalan semakin rusak,” keluhnya.
Ia menambahkan, persoalan jalan tersebut sudah berulang kali disampaikan masyarakat, termasuk melalui media sosial dan Facebook. Sejumlah warga, bahkan para guru sekolah dasar yang beraktivitas di kawasan itu, turut menyuarakan harapan agar pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur tersebut.
Kekecewaan warga semakin besar karena Dinas PUPR Kabupaten Rejang Lebong disebut pernah turun langsung ke lokasi bersama pihak konsultan untuk melakukan pengukuran jalan pada 30 September 2025.
Saat itu, menurut Istanto, warga mendapat harapan bahwa jalan dari Simpang Trans Taktoi menuju kawasan permukiman akan dibangun pada 2026.
Namun, hingga Selasa (3/11/2026), warga mengaku belum melihat tanda-tanda dimulainya pembangunan jalan tersebut. Mereka pun mempertanyakan kelanjutan rencana yang sebelumnya telah disampaikan kepada masyarakat.
“Kami sangat menyayangkan kondisi ini. Jalan sudah diukur dan kami mendapat harapan akan dibangun pada 2026. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda pekerjaan. Kami merasa seperti diberi harapan palsu,” tegas Istanto.
Ia berharap pemerintah daerah melalui Dinas PUPR dapat memberikan penjelasan mengenai kepastian pembangunan jalan tersebut. Bagi warga Trans Taktoi, perbaikan jalan bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan kebutuhan mendasar untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, dan aktivitas sehari-hari.
Terpisah, Kepala Desa Taktoi, Budi, membenarkan bahwa kondisi jalan menuju permukiman warga Trans Taktoi mengalami kerusakan cukup parah.
Menurutnya, pemerintah desa telah berulang kali berupaya memperjuangkan perbaikan jalan tersebut, mulai dari mengajukan proposal hingga menyampaikan usulan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
Meski demikian, hingga kini kondisi jalan masih membutuhkan penanganan serius.
“Upaya untuk mendapatkan perbaikan jalan ini sudah banyak kami lakukan. Kami mengajukan proposal dan setiap Musrenbang tingkat kecamatan, persoalan jalan Trans Taktoi selalu kami sampaikan. Namun, sampai sekarang kondisinya semakin rusak,” jelas Budi.
Ia mengatakan, pemerintah desa bersama masyarakat juga tidak tinggal diam. Warga beberapa kali melaksanakan gotong royong dan melakukan pengecoran pada bagian jalan yang rusak menggunakan dana swadaya masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya sementara agar jalan masih bisa dilalui, meskipun belum mampu mengatasi kerusakan secara menyeluruh.
Budi juga membenarkan bahwa jalan menuju Trans Taktoi telah beberapa kali ditinjau dan diukur oleh pihak Dinas PUPR Kabupaten Rejang Lebong. Bahkan, kunjungan terakhir yang diingatnya dilakukan bersama pihak konsultan pada 30 September 2025.
Saat itu, dirinya turut mendampingi rombongan ketika melakukan pengukuran di lokasi jalan yang diusulkan untuk dibangun.
Warga dan pemerintah desa berharap agar hasil pengukuran serta usulan yang telah disampaikan berulang kali dapat ditindaklanjuti dengan kepastian program pembangunan.
“Masyarakat Trans Taktoi berharap pemerintah daerah memberikan penjelasan terbuka mengenai status rencana pembangunan tersebut, sehingga warga tidak terus menunggu tanpa kepastian,” ujarnya. (Mawid)


















