Beranda Rejang Lebong Puluhan Tahun Rusak Berat, SDN 133 Rejang Lebong Seolah Luput dari Perhatian Pemkab
Rejang Lebong

Puluhan Tahun Rusak Berat, SDN 133 Rejang Lebong Seolah Luput dari Perhatian Pemkab

Rejang Lebong, (Radar Lembak) – Kondisi bangunan SD Negeri 133 Rejang Lebong yang berada di Desa Lubuk Tunjung, Kecamatan Sindang Beliti Ilir (SBI), Kabupaten Rejang Lebong, memprihatinkan. Selama bertahun-tahun, sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan berat dan hingga kini belum mendapatkan perbaikan menyeluruh.

Ironisnya, kerusakan tersebut disebut telah terjadi sejak 2012. Namun, hingga Kamis (22/10/2026), kondisi bangunan sekolah masih jauh dari kata layak untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar.

Sedikitnya empat ruang kelas mengalami kerusakan parah, terutama pada bagian atap dan plafon. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan proses pembelajaran, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Kerusakan bangunan terlihat di sejumlah bagian. Atap yang bocor menyebabkan air hujan masuk ke ruang kelas hingga merusak plafon. Bahkan, saat hujan turun, aktivitas belajar-mengajar terkadang harus dihentikan karena sebagian ruangan tergenang air.

Tak hanya atap dan plafon, kondisi lantai juga memprihatinkan. Lantai yang sebelumnya disemen kini di sejumlah bagian telah terkikis hingga memperlihatkan tanah merah. Pintu dan jendela ruang kelas pun banyak yang rusak, menambah buruk kondisi sarana pendidikan di sekolah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 133 Rejang Lebong, Heri Putra, membenarkan bahwa sejumlah ruang kelas di sekolah yang dipimpinnya mengalami kerusakan berat.

Menurut Heri, ruang kelas yang terdampak parah antara lain ruang belajar kelas I, III, IV, dan V. Kerusakan tersebut menjadi kendala tersendiri bagi sekolah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, terutama ketika musim hujan.

“Di sekolah ini ada empat ruangan yang rusak parah, seperti lokal kelas I, III, IV, dan V. Untung saat ini musim kemarau, sehingga ruang kelas yang atapnya bocor masih bisa digunakan untuk belajar,” ujar Heri.

Meski masih digunakan, kondisi bangunan tersebut membuat pihak sekolah diliputi kekhawatiran. Plafon yang rusak dan material bangunan yang telah lapuk dikhawatirkan dapat membahayakan siswa maupun guru ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung.

Heri mengatakan, pihak sekolah telah berulang kali mengusulkan perbaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Rejang Lebong. Namun, hingga kini, usulan tersebut belum membuahkan hasil berupa renovasi bangunan.

“Hampir setiap tahun kami mengusulkan perbaikan sekolah ini ke Dikbud. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda perbaikan terhadap ruang kelas di SDN 133 Rejang Lebong ini,” ungkapnya.

Upaya mengusulkan pembangunan juga dilakukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Setiap kali kegiatan perencanaan pembangunan desa dilaksanakan, pihak sekolah kembali menyampaikan kebutuhan perbaikan ruang kelas agar dapat menjadi perhatian pemerintah daerah.

Namun, menurut Heri, berbagai usulan tersebut belum mengubah kondisi bangunan sekolah yang semakin memprihatinkan.

Saat ini, SDN 133 Rejang Lebong memiliki 51 siswa dengan dukungan sembilan orang guru, terdiri atas satu guru berstatus PNS, delapan guru berstatus PPPK, serta satu tenaga honorer sebagaimana disampaikan pihak sekolah.

Heri berharap pemerintah daerah, khususnya Dikbud Kabupaten Rejang Lebong, dapat segera meninjau kondisi sekolah dan merealisasikan perbaikan. Menurutnya, bangunan yang aman dan layak merupakan kebutuhan mendasar agar siswa dapat belajar dengan nyaman tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap kerusakan gedung.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Lubuk Tunjung, Harwani, juga mengakui bahwa kondisi bangunan SD di desanya tersebut telah mengalami banyak kerusakan.

Harwani mengatakan, pemerintah desa telah berulang kali menyampaikan persoalan itu dalam Musrenbang tingkat kecamatan yang dihadiri pihak Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong.

“Setiap tahun saya selaku kepala desa mengusulkan pembangunan ruang kelas belajar di sekolah itu agar segera diperbaiki. Namun, sangat disayangkan, sampai sekarang kondisi SD di desa kami justru semakin rusak,” tutup Harwani. (Mawid)

Sebelumnya

Pemdes Lubuk Tunjung Susun RKPDes 2027, Dilanjutkan Opname Pembangunan Fisik

Selanjutnya

Jalan Desa Bukit Batu Sempat Masuk Prioritas APBD 2025, Dicoret Akibat Efisiensi

admin
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Radar Lembak
Alaku
Alaku